PLTP Arjuno-Welirang, Haruskah Didukung atau Ditolak?

Home / Kopi TIMES / PLTP Arjuno-Welirang, Haruskah Didukung atau Ditolak?
PLTP Arjuno-Welirang, Haruskah Didukung atau Ditolak? Mochamad Fajar Ramadhan, Mahasiswa ilmu pemerintahan di Universitas Brawijaya. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESBONTANG, MALANG – Kebutuhan energi listrik di Indonesia selama periode 2010-2019 masih belum tercukupi. Menurut suber dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan mencapai angka 55.000 MW. Dari jumlah kebutuhan tersebut, hanya sebanyak 32.000 MW yang dapat dipenuhi oleh PLN, dengan akumulasi sebanyak 57 persen saja dari seluruh kebutuhan kebutuhan masyarakat. Besarnya kebutuhan listrik masyarakat, membuat pemerintah mencari banyak jalan untuk memenuhinya. Salah satunya adalah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Indonesia memiliki sekitar 250 daerah titik panas, dengan potensi energi sebesar 27.000 MW. Maka dari itu pemerintah mengebut pembangunan PLTP. Salah satu yang menjadi sasaran adalah dari pembangunan ini adalah Gunung Arjuno-Welirang. Gunung ini secara geogrfis terletak di empat kabupaten, yaitu Mojokerto, Malang, Batu dan Pasuruan. Kegiatan di Gunung Arjuno-Welirang ini telah mendapat izin sejak 2017 lalu, dan sedang dalam tahapan survei untuk kegiatan eksplorasi. Energi yang tersimpan dari gunung ini sebesar 302 MW, dan akan digarap oleh BUMN yaitu PT Gio Dipa Energi. 

Dari gambaran pembangunan di atas, tentu jika mega proyek ini berjalan baik maka akan menghasilkan banyak keuntungan. Yang paling penting adalah sumber energi listrik masyarakat akan tercukupi, setidak nya pemadaman listrik akan berkurang dari sebelumnya. Selain iku pendapatan negara pun akan meningkat. Masyarakat sekitar pun akan bisa mengambil keuntungan, dengan dibukanya pekerjaan-pekerjaan baru dari PLTP ini. dengan diwacanakannya proyek ini, tentu akan menarik minat investor baik lokal internasional. Diperkirakan sebesar 927 juta USD akan mendanai proyek pembangkit listrik ini. 

Proyek PLTP ini merupakanproyek besar yang akan dilaksanakan Indonesia. Dengan hasil besar yang kembali pada negara, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak, maka harga yang harus dibayar juga besar, pengorbanan yang dilakukan pun besar. Pembangunan ini merupakan pembangunan yang dilakukan di alam terbuka, titik proyek pun ditengah hutan dan dikelilingi oleh dua gunung yakni Arjuno-Welirang, maka tidak bisa dielakkan pembukaan lahan pasti akan terjadi. Hal ini tentu merugikan, mengingat penebangan hutan di Indonesia akhir-akhir ini semakin marak.

Masyarakat seharusnya tidak tergiur dengan dampak positif yang besar. Akan lebih baik jika masyarakat juga mempertimbangkan dampak buruk yang dihasilkan dari mega proyek ini. Mari berkaca pada Gunung Slamet, yang juga pernah menjadi korban pembangunan PLTP. Banyak dampak negatif yang terjadi pada lingkungan sekitar, yang berimbas pula kepada masyarakat. Dampak yang terlihat seperti, kerusakan hutan, pencemaran air sungai, longsor, dan kerusakan habitat dari satwa sekitar Gunung Slamet. Masyarakat yang dampak ini tidak tinggal diam, mereka melakukan beberapa perlawanan kepada pihak PLTP. Berbagai bentuk propagamda, demonstrasi, dan kecaman terjadi. Alhasil proyek ini sempat berhenti dan melakukan beberapa pembenahan. 

Pemerintah berencana akan mengebut proyek besar ini. Akan tetapi masyarakat di lapangan yang melibatkan 4 kabupaten/kota, dirasa belum cukup mengetahui tentang rencana ini. Informasi yang ditujukan kepada masyarakat oleh media masih kurang. Hal ini tentu bukan jalan yang baik, seperti apapun tujuan yang ingin dilakukan pemerintah, masyarakat haruslah terlibat setidaknya hanya dengan informasi. Mengingat semakin dekat nya peangunan ini – yang saat ini sudah sampai tahap survei untuk eksplorasi – masyarakat harus segera menentukan sikapnya, akankah mendukung proyek ini, atau menolak karana merugikan lingkungan.

Sudah saatnya masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan. Masyarakat harus dianggap dan dilibatkan pada proses kebijakan ataupun pembangunan, apalagi megaproyek yang juga mengancam ekosistem ini. Masih ada waktu untuk mendiskusikan, mengkaji soal proyek ini, supaya jelas tindakan apa yang akan diambil oleh masyarakat. Terlebih pembangunan ini melibatkan 4 kabupaten dan 2 gunung. Maka sekaranglah saatnya masyarakat memilih jalannya, mendukung atau menolak pembangunan proyek PLTP Arjuno-Welirang. (*)

***

*)Penulis: Mochamad Fajar Ramadhan, Mahasiswa ilmu pemerintahan di Universitas Brawijaya.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com